Muhammadiyahbatang.com, LIMPUNG – Siapa bilang nunggu waktu Maghrib cuma bisa dipakai buat bengong? Di Pondok Pesantren Ulul Albab MBS Limpung, Kamis sore justru jadi momen para santriwati untuk memperdalam “senjata” membaca Al-Qur’an agar makin tartil dan fasih.
Kemarin, Kamis, 12 Februari 2026, suasana di aula terasa begitu hangat dan khidmat. Para santriwati berkumpul melingkar, lengkap dengan kitab kuning tipis legendaris di tangan mereka, Matan Tuhfatul Athfāl.
Kajian rutin Syarah Tuhfatul Athfal kali ini dipandu langsung oleh Ustadzah Rodivah. Dengan gaya penyampaian yang telaten, beliau mengajak para santriwati mendalami bab yang sangat penting dalam ilmu tajwid, yaitu Hukum Lam.
Materi difokuskan pada tiga poin utama:
- Lam Ta’rif (Alif Lam) : Membedakan kapan kita harus membaca Asy-Syamsiyah (idgham) dan kapan harus Al-Qomariyah (izhhar).
- Lam Fi’il : Mengetahui cara melafalkan huruf lam yang nempel pada kata kerja, baik di tengah maupun di akhir kata.
- Lam Isim dan Harf : Melengkapi pemahaman agar tidak ada lagi keraguan saat lidah bertemu huruf-huruf tertentu.
Ustadzah Rodivah menekankan bahwa belajar tajwid bukan sekadar menghafal bait syair, tapi tentang rasa cinta kita kepada Al-Qur’an.
“Kalau kita tahu di mana harus menekan suara dan di mana harus jelas, bacaan kita bukan cuma enak didengar, tapi juga menjaga kemurnian makna ayat yang kita baca,” ujar beliau di sela-sela penjelasan.
Para santriwati terlihat antusias menyimak, sesekali mencoret-coret kitab mereka (maknani) untuk memberi catatan penting. Diskusi berjalan dua arah, membuat suasana sore itu terasa lebih hidup.
Kegiatan Kamis sore ini memang sudah jadi agenda wajib di MBS Limpung. Tujuannya jelas untuk mencetak generasi muslimah yang tidak hanya hafal Al-Qur’an, tapi juga mengerti kaidah-kaidah keilmuannya secara mendalam.
(Des/Git)












