Berita  

MDMC Batang Kenalkan Mitigasi Bencana Lewat Rappelling pada MPLS MA Muhammadiyah Limpung

Muhammadiyahbatang.com, PUSDATIN – Suara aba-aba instruktur terdengar bersahutan di halaman MA Muhammadiyah Limpung. Satu per satu peserta didik mengenakan helm dan seat harness, lalu menuruni ketinggian dengan teknik _rappelling_. Rasa gugup perlahan berubah menjadi percaya diri ketika kaki mereka kembali menapak di tanah.

Praktik tersebut menjadi bagian dari rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) MA Muhammadiyah Limpung yang menghadirkan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Kabupaten Batang untuk memberikan edukasi kesiapsiagaan bencana. Kegiatan ini diikuti oleh 126 peserta didik.

Tidak hanya menyampaikan materi di dalam kelas, MDMC Batang juga mengajak peserta didik belajar melalui pengalaman langsung di lapangan. Salah satu materi yang paling menarik perhatian adalah _rappelling_, teknik turun menggunakan tali yang dalam operasi kemanusiaan digunakan untuk proses evakuasi dan penyelamatan di medan berketinggian.

Sebelum praktik dimulai, seluruh peserta didik mendapatkan pembekalan mengenai penggunaan _seat harness_, helm, prosedur keselamatan, hingga teknik dasar turun menggunakan tali. Seluruh rangkaian kegiatan didampingi instruktur dan relawan MDMC Batang sehingga berlangsung aman dan tertib.

Selain praktik _rappelling_, peserta didik juga memperoleh materi mengenai mitigasi bencana, potensi risiko di lingkungan sekolah, serta langkah-langkah penyelamatan diri ketika menghadapi situasi darurat.

Ketua MDMC Batang, Muh. Edy Supriyanto, mengatakan bahwa praktik _rappelling_ dipilih bukan untuk menguji keberanian peserta didik, melainkan mengenalkan salah satu teknik yang digunakan dalam operasi penyelamatan.

“Rappelling bukan sekadar menguji keberanian. Dalam kondisi tertentu, teknik ini menjadi salah satu metode evakuasi yang digunakan dalam operasi penyelamatan. Karena itu, kami mengenalkan dasar-dasarnya kepada peserta didik dengan tetap mengutamakan aspek keselamatan. Harapannya, mereka memiliki pemahaman bahwa kesiapsiagaan dibangun melalui pengetahuan, keterampilan, dan latihan yang benar,” ujar Edy.

Sementara itu, Kepala MA Muhammadiyah Limpung, Muniroch, M.Pd., menegaskan bahwa madrasah berkomitmen mengembangkan budaya siaga bencana sebagai bagian dari pembentukan karakter peserta didik. Menurutnya, edukasi kebencanaan tidak berhenti pada kegiatan MPLS, tetapi akan menjadi bagian dari pembelajaran dan budaya di lingkungan madrasah.

“Kami memiliki komitmen untuk mengembangkan budaya siaga bencana di lingkungan madrasah. Ke depan, materi kebencanaan akan kami integrasikan ke dalam Projek Pelajar Berkemajuan (PPB). Selain itu, kami akan membentuk Tim Siaga Bencana Madrasah, menjalin kerja sama dengan MDMC Batang untuk pelatihan dan pembinaan secara berkelanjutan, serta membiasakan budaya siaga bencana dalam berbagai aktivitas di madrasah,” ujar Muniroch.

Kolaborasi ini menjadi bagian dari program MDMC Goes To School yang terus dikembangkan MDMC Batang untuk memperluas edukasi kebencanaan di berbagai satuan pendidikan. Melalui pendekatan yang memadukan materi, simulasi, dan praktik lapangan, program ini diharapkan mampu menumbuhkan budaya siaga bencana yang berkelanjutan di lingkungan sekolah maupun madrasah, sehingga peserta didik memiliki bekal pengetahuan dan keterampilan dasar dalam menghadapi situasi darurat.

 

Kontributor: Husna Pusdatin MDMC Batang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *