Muhammadiyahbatang.com, BATANG — Penanggulangan bencana tidak lagi dipandang sebatas memberikan respons saat musibah terjadi. Muhammadiyah kini mengembangkan gerakan kemanusiaannya dengan menitikberatkan pada pembangunan resiliensi atau ketangguhan masyarakat melalui pengurangan risiko bencana, edukasi, dan penguatan kapasitas di berbagai sektor, termasuk pendidikan.
Komitmen tersebut menjadi fokus dalam kegiatan koordinasi Lembaga Resiliensi Bencana (MDMC) Batang bersama Ikatan Guru Bustanul Athfal (IGABA) Pecalungan yang berlangsung pada Sabtu, 18 Juli 2026, di TK ABA Randu, Kecamatan Pecalungan. Kegiatan ini diikuti jajaran Pimpinan Cabang Aisyiyah Pecalungan serta guru-guru PAUD dan TK ABA di lingkungan Aisyiyah Pecalungan.
Ketua MDMC Batang, Muh. Edy Supriyanto, menjelaskan bahwa konsep One Muhammadiyah One Response (OMOR) merupakan strategi untuk mengintegrasikan seluruh kekuatan kemanusiaan Muhammadiyah dalam satu sistem yang terkoordinasi. Setiap unsur Muhammadiyah memiliki peran sesuai fungsi dan kapasitasnya sehingga mampu bergerak sebagai satu kesatuan dalam pelayanan kemanusiaan.
Menurutnya, paradigma kebencanaan Muhammadiyah kini telah bergeser. Fokus gerakan tidak lagi hanya pada penanganan saat bencana terjadi, tetapi juga membangun masyarakat yang memiliki kemampuan mengenali risiko, mengurangi dampak ancaman, beradaptasi, serta pulih lebih cepat ketika menghadapi bencana.
“OMOR bukan hanya menyatukan respons saat bencana terjadi, tetapi mengintegrasikan seluruh potensi Muhammadiyah untuk membangun resiliensi masyarakat. Setiap unsur memiliki peran masing-masing sehingga mampu saling menguatkan dalam upaya kemanusiaan,” ujar Edy.
Ia menambahkan, sektor pendidikan menjadi salah satu pilar penting dalam membangun budaya sadar bencana. Karena itu, kolaborasi bersama IGABA diarahkan untuk memperkuat implementasi Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di sekolah-sekolah Muhammadiyah, khususnya PAUD dan TK ABA.
Melalui SPAB, sekolah didorong menjadi ruang belajar yang aman sekaligus mampu menanamkan budaya kesiapsiagaan sejak usia dini. Guru memiliki peran strategis dalam mengenalkan risiko bencana, langkah penyelamatan diri, serta membangun karakter peduli dan tangguh kepada peserta didik.
Sementara itu, Ketua IGABA Pecalungan, Fitriyah, S.Pd.AUD., menyampaikan bahwa sinergi bersama MDMC Batang menjadi langkah penting dalam memperkuat kapasitas pendidik di lingkungan PAUD dan TK ABA. Menurutnya, guru memiliki peran sentral dalam membangun budaya kesiapsiagaan sejak usia dini sehingga nilai-nilai pengurangan risiko bencana dapat diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran.
Fitriyah menambahkan, implementasi Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) diharapkan tidak hanya meningkatkan kesiapan sekolah dalam menghadapi situasi darurat, tetapi juga membentuk karakter peserta didik yang peduli, tangguh, dan mampu mengambil tindakan yang tepat ketika menghadapi potensi bencana.
Melalui kolaborasi ini, MDMC Batang dan IGABA Pecalungan berkomitmen memperkuat implementasi SPAB sekaligus mengembangkan semangat One Muhammadiyah One Response (OMOR) sebagai gerakan bersama Muhammadiyah dalam membangun masyarakat yang lebih tangguh. Dengan mengintegrasikan peran setiap unsur sesuai kapasitasnya, Muhammadiyah diharapkan tidak hanya hadir saat bencana terjadi, tetapi juga mampu memperkuat resiliensi masyarakat melalui edukasi, mitigasi, dan kolaborasi yang berkelanjutan.
Kontributor: Husna PUSDATIN MDMC Batang












