MUHAMMADIYAHBATANG.COM, Batang-Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Kabupaten Batang memberikan edukasi mitigasi bencana kepada 61 peserta didik SD Muhammadiyah Limpung pada Jumat (17/7/2026). Kegiatan tersebut bertujuan membangun budaya siaga bencana sejak usia dini melalui pembelajaran yang dipadukan dengan simulasi sederhana.
Kegiatan diawali dengan penyampaian materi mengenai berbagai jenis bencana yang berpotensi terjadi di Indonesia, potensi risiko di lingkungan sekitar, serta langkah-langkah yang perlu dilakukan ketika menghadapi situasi darurat. Materi disampaikan secara interaktif agar mudah dipahami oleh peserta didik.
Usai sesi di dalam kelas, kegiatan dilanjutkan dengan simulasi di halaman sekolah. Dalam praktik tersebut, siswa diajak memeragakan tindakan penyelamatan diri saat terjadi bencana, mulai dari melindungi diri, bergerak menuju titik aman, hingga mengikuti arahan petugas selama proses evakuasi. Simulasi ini menjadi bagian dari pembelajaran agar peserta didik tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkannya ketika menghadapi kondisi darurat.
Ketua MDMC Kabupaten Batang, Muh Edy Supriyanto, mengatakan pendidikan mitigasi bencana perlu dikenalkan sejak jenjang sekolah dasar karena anak-anak merupakan kelompok yang rentan ketika terjadi bencana.
“Mitigasi bencana bukan hanya menjadi tanggung jawab orang dewasa. Anak-anak juga perlu dibekali pengetahuan dan keterampilan dasar agar mereka mampu melindungi diri sendiri ketika terjadi bencana. Karena itu, kami tidak hanya memberikan materi, tetapi juga mengajak mereka mempraktikkan langkah-langkah sederhana yang harus dilakukan saat menghadapi kondisi darurat,” kata Edy.
Sementara itu, Kepala SD Muhammadiyah Limpung, Abdullah Azzam Izzudin, S.Psi., mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya membekali siswa dengan pengetahuan kebencanaan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai karakter yang menjadi bagian dari proses pendidikan di sekolah.
“Ada dua nilai utama yang ingin kami tanamkan kepada siswa melalui kegiatan ini. Pertama, nilai kesiapsiagaan, agar mereka memiliki pengetahuan dan mampu bertindak dengan tepat ketika menghadapi bencana. Kedua, nilai ta’awun atau semangat saling menolong. Kami berharap anak-anak tidak hanya mampu menyelamatkan diri, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang peduli dan siap membantu sesama sesuai dengan kemampuannya,” ujar Abdullah.
Melalui edukasi dan simulasi tersebut, MDMC Batang bersama SD Muhammadiyah Limpung berharap budaya siaga bencana dapat tumbuh di lingkungan sekolah. Pembekalan sejak usia dini diharapkan menjadi fondasi bagi lahirnya generasi yang tangguh menghadapi bencana sekaligus memiliki kepedulian terhadap keselamatan diri dan sesama.
Kontributor: Husna Pusdatin MDMC












