Muhammadiyahbatang.com, Batang – Angka kecelakaan air di wilayah Kabupaten Batang dalam tiga tahun terakhir ini menunjukkan adanya peningkatan. Menyikapi kondisi tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Batang bekerja sama dengan Basarnas mengambil langkah antisipasi dengan menggelar Pelatihan Water Rescue pada Kamis (18/9/2025).
Pelatihan yang digelar di Pantai Sigandu tersebut diikuti puluhan relawan dari berbagai unsur, antara lain PMI, Bagana, Arnavat, Jagabaya, Pol Airud, hingga Pos TNI AL Batang. Seluruh peserta mendapatkan pembekalan langsung dari tim Basarnas terkait teknik penyelamatan korban tenggelam, penggunaan perahu karet, motor tempel, hingga evakuasi korban dengan cedera tulang belakang menggunakan Long Spine Board.
Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Kabupaten Batang turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut dengan menugaskan relawan Izzul Islam Al Fadli, melalui Surat Tugas Nomor 009/III/16.0/2025.
Instruktur dari Basarnas menekankan pentingnya prinsip keselamatan diri penyelamat sebelum menolong korban. “Jika penyelamat tidak mengutamakan keselamatan diri, maka risiko bertambah. Korban bisa bertambah dua, bukan berkurang,” ujarnya.
Jawaban atas Meningkatnya Kasus
Menurut data BPBD, kasus kecelakaan air di Batang terus meningkat dalam periode 2023–2025. Salah satu kejadian paling tragis adalah terseretnya lima anak di aliran Sungai Kalikuto, perbatasan Batang–Kendal, beberapa waktu lalu. Seluruh korban memang berhasil ditemukan, namun peristiwa itu menjadi alarm betapa pentingnya kesiapsiagaan penyelamatan di perairan.
Baca : Kisah pengabidan AmbulanMu Sodong
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Batang, M. Fajri, menegaskan bahwa pelatihan ini menjadi langkah penting agar relawan mampu merespons cepat setiap kejadian di lapangan. “Relawan adalah garda terdepan. Dengan keterampilan yang terasah, mereka bisa bergerak lebih efektif dan aman,” ujarnya.

Ketua MDMC Batang, Muh Edy Supriyanto menyampaikan keterlibatan lembaganya dalam pelatihan ini sekaligus menjadi bagian dari penguatan kapasitas relawan Muhammadiyah dalam penanggulangan bencana. “Kami ingin memastikan relawan MDMC siap tidak hanya menghadapi bencana besar, tapi juga kondisi darurat sehari-hari seperti kecelakaan air. Ilmu ini akan kami sebarkan ke masyarakat sebagai bentuk edukasi bersama,” katanya.
MDMC Batang menilai sinergi lintas lembaga merupakan kunci dalam penanggulangan bencana. Dengan terjalinnya kerja sama antara MDMC, PMI, Pol Airud, hingga Basarnas, kapasitas daerah dalam menghadapi ancaman kecelakaan air diyakini akan semakin kuat.
Penulis: IF PUSDATIN
Editor: Sugito













Respon (2)