Khutbah Jumat di Aula MBS Limpung: Ustadz Ilyas Ajak Santri Hidupkan Semangat Iqra’.

Muhammadiyahbatang.com, Limpung — Khutbah Jum’at yang digelar di Aula MBS Limpung pada Jum’at (13/2/2026) berlangsung khidmat dan penuh antusiasme. Sekitar 120 jama’ah yang terdiri dari para santri serta asatidz dan ustadzat mengikuti kegiatan tersebut. Selain sebagai bentuk ibadah kepada Allah Swt, kegiatan ini juga menjadi sarana tarbiyah dan penguatan karakter keilmuan bagi para santri.

Bertindak sebagai khatib, Ustadz Ilyas Abdul Muiz menyampaikan khutbah bertema semangat “Iqra”. Dalam penyampaiannya, ia menegaskan bahwa wahyu pertama dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 mengandung pesan mendasar tentang pentingnya ilmu dalam Islam. Ia menjelaskan bahwa perintah pertama yang turun bukanlah shalat atau zakat, melainkan membaca.

“Perintah pertama adalah Iqra, membaca. Ini menunjukkan bahwa Islam dibangun di atas ilmu,” ujar Ustadz Ilyas di hadapan jama’ah.

Menurutnya, membaca dalam perspektif Islam tidak dapat dipisahkan dari nilai ketuhanan. Ia menekankan bahwa frasa “bismi rabbik” mengandung makna bahwa aktivitas belajar harus terhubung dengan Allah Swt. Ilmu yang benar, kata dia, adalah ilmu yang mendekatkan seseorang kepada Tuhannya.

“Ilmu tidak boleh terlepas dari iman. Ilmu yang tidak diiringi nilai ketuhanan bisa kehilangan keberkahannya,” tegasnya.

Baca Juga :

Selain itu, Ustadz Ilyas mengingatkan bahwa manusia diciptakan dari sesuatu yang lemah. Pesan tersebut, menurutnya, menjadi pengingat agar siapa pun yang berilmu tidak terjerumus pada sikap sombong. Ia menyampaikan bahwa ilmu seharusnya melahirkan sikap tawadhu’ dan kesadaran akan asal-usul penciptaan manusia.

Dalam khutbahnya, ia juga menyinggung penyebutan “pena” dalam ayat tersebut sebagai simbol peradaban. Ia menjelaskan bahwa kemajuan umat Islam tidak lepas dari tradisi membaca, menulis, dan menjaga warisan ilmu pengetahuan. Peradaban, lanjutnya, dibangun melalui ilmu yang dipelajari dan diwariskan secara berkelanjutan.

Lebih jauh, Ustadz Ilyas menekankan bahwa ilmu bukan untuk dibanggakan, melainkan untuk diamalkan. Tujuan akhir dari menuntut ilmu adalah semakin tunduk dan dekat kepada Allah Swt. Ia juga menegaskan bahwa seluruh ilmu pada hakikatnya merupakan karunia Allah.

“Ketika kita memahami sesuatu, itu bukan semata hasil usaha kita, tetapi karunia dari Allah. Kesadaran ini harus melahirkan syukur dan tanggung jawab untuk terus belajar serta beramal,” ungkapnya.

Melalui khutbah tersebut, para santri diharapkan semakin termotivasi untuk menghidupkan semangat Iqra dalam kehidupan sehari-hari, dengan belajar secara ikhlas, rendah hati, dan penuh tanggung jawab.

 

(Des/Gito)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *